Madrasah Aliyah Fattah Hasyim

Jl. KH. Wahab Chasbullah Tambakberas Jombang

Pengasuh MA Fattah Hasyim

Jl. KH. Wahab Chasbullah Tambakberas Jombang

Kegiatan Ekstra Siswa

mafattahhasyim.blogspot.com

Salah satu kegiatan ekstra

mafattahhasyim.blogspot.com

Salah satu gedung pembelajaran

mafattahhasyim.blogspot.com

bismillah

//go.ad2up.com/afu.php?id=765669

Bismillah

switch

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, November 22, 2014

Pejuang Madrasahku


Oleh: Djava


Bahagia, bangga, dan bersyukur. Tiga kata yang pantas kali ini, untuk mengisi rubrik madrasah. Apa sebab?.Karena baru saja saudara-saudari kita berhasil menyunggingkan senyum madrasah melalui ukiran prestasi di banyak kompetisi. 

Sesuai dengan tema heroik “Hari Pahlawan”, tak ada salahnya bukan kita mengapresiasi para pejuang madrasah dengan lembar-lembar catatan?. Seperti adigung yang sering kita dengar “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya“. Tak harus seluas bangsa, sebuah madrasah pun bisa mengapresiasi jejak jasa pejuang mereka. Dalam arti sempit,  pejuang tak harus selalu berperang?. Yaps, betul, betul, betul. Mereka yang membela prestise madrasah pun patut disematkan sebagai pejuang dan pahlawan. Yakni mereka yang meluangkan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengharumkan nama madrasah tercinta.

Setidaknya rekapitulasi kami mencatat ada tiga kompetisi besar di bulan oktober yang harus dilakoni dalam kurun waktu tidak lebih dari satu bulan. Waaaaw, ya,  Porseni, Porseka, dan Gaza. Triple competition multi talenta dari tingkat daerah hingga nasional. 

PORSENI

Porseni adalah laga antar siswa aliyah sederajat. Di dalamnya terkatagori dua macam lomba yaitu jasmani dan rohani. 
 Osis putra, mengikuti lomba di semua ajang. Sedangkan Osis Putri hanya mengikuti jenis lomba rohani, dan lomba catur untuk katagori jasmani. Dari beberapa cabang lomba, Madrasah  berhasil menyabet 4 kejuaraan dengan perincian: 
(1) Juara I lomba kaligrafi oleh remaja kelahiran Gresik Aizal Hakim. 
(2) Juara II MusabaqahTilawatil Qur’an (MTQ) oleh Si Merdu kelahiran 13 maret 1999 Ahmad Fauzi. 
(3) Juara III lomba atletik 400 M oleh Embah atau Syahrial Afifuddin. 
(4) Sedangkan juara harapan III lomba catur direbut oleh Dara Manis dengan sapaan akrab Mbak Jeni.  Congratulations!


Sebenarnya dalam lomba banjari dan futsal, kita juga mendapatkan gelar juara kawan. Namun karena gagal, akhirnya kemenangan tertunda. He hehe


Setelah Porseni Datanglah Porseka

Setelah aliyah berlelah-lelah memerah banyaknya tropi kejuaraan. Tepat pada tanggal 31 Oktober Si Manis dan Si Unyu adik-adik generasi Fattah Hasyim berlaga. PORSEKA, kami siap jad ijuara!!!.  Motto pemompa semangat untuk ajang yang diperuntukkan bagi siswa dan siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) sederajat. Tak mau kalah dengan Eneng dan Abang-Abangnya. Sang Adik pun bertekat memboyong gelar champion guna menggugah senyum madrasah.

Terbukti, kuatnya tekat melahirkan harkat. Prestasi imbang dengan sang kakak mereka ukir dengan timangan juara seperti: 
(1) Juara I Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) oleh Si Imut Alimul Hakim
(2) Jamilatul Fuadah, suara kharismatiknya berhasil memberi konstribusi juara II lomba pidato bahasa Arab. 
(3) Jura II pidato bahasa Inggris oleh Alisa Dzihni Al Fatihah dengan kemampuan pelafalan inggris yang mampu mendecak kagum para juri. 
(4) sementara dengan suara merdunya Harum Wardatul Jannah menjadi Juara III Musabaqah Tilawatil Qur’an MTQ. Prestisius Adik-adik!!

Berlaga di Gaza

Gebyar Khazanah Arabi atau Gaza adalah khajatan rutin Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN  Maulana Malik Ibrahim Malang.  untuk merayakan hari ulang tahun milad yang  ke-6 nya. Ada berbagai macam lomba, namun karena waktu yang sama dengan Porseni maka madrasah hanya mengeluarkan delegasi untuk Lomba Karya Tulis Ilmiah atau LKTI. Yassirly Amriya, Ninik Kurnia, dan Jawaharo Nisa Salsabila adalah wakil madrasah yang mempresentasikan karya tulis ilmiah ke UIN Malang. 20 menit waktu presentasi dengan termin 10 menit pertama penyampaian materi dan termin 10 menit kedua pertanyaan. 

Sleeeeeeeep, baru 3 menit lampu mati. Presentasi berhenti. Biyaaar, dan lampu hidup kembali. Tak banyak buang waktu dengan jurus cas-cis-cus-ces mereka ambil microphone dan memaparkan makalah kembali. Kelancaran menerangkan, ketepatan menjawab pertanyaan juri serta kesesuaian isi makalah dengan presentasi, membawa juri menilai wakil madrasah layak menjadi juara II LKTI tingkat nasional. Kereeeen! 
Aksi heroik mereka bisa di saksikan di sini : https://www.youtube.com/watch?v=DuhV9k6UJqw
Yah, catatan di atas adalah sepenggal kisah tentang para pejuang madrasah. Masih banyak yang belum tertulis. Tentang Masyayikh, Guru, dan tenaga kependidikan. Jasa mereka walau dalam sekam terpendam selalu akan kami rekam. Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih. Kalian adalah pejuang Madrasah Fattah Hasyim tecinta.



هل جزاء الإحسان الا الإحسان













Saturday, October 11, 2014

POSITIF !

Oleh: M. Nur Rizal Hakim


            Adakalanya orang mengatakan, alangkah menariknya kalau fikiran manusia seperti magnet yang bisa menarik semua keinginan yang di inginkan menjadi miliknya. Tentu saja fikiran manusia bukanlah magnet  tapi bisa saja fikiran manusia bekerja layaknya sebuah magnet. Jika fikiran nagatif orang akan menarik segala sesuatu di lingkungan yang memiliki nilai negative kedalam lingkungannya.
            Ketika virus negative mulai menguasai fikiran seseorang hal yang ia tarik masuk ke dalam fikirannya adalah sifat ketidak percayaan diri, ketidak berdayaan, dan hal-hal negative lainnya. Hal itu akan membawa dampak negative bagi dirinya maupun lingkungannya. Memang tempat tinggal kita adalah dunia yang keras  dan ketidak adilan merajalela, kita kesulitan membedakan mana virus fikiran negative atau virus fikiran positif yang mendominasi fikiran tersebut . Semua orang beranggapan bahwa yang dilakukan saat ini adalah benar, padahal belum tentu. Lantas bagaimana seseorang dapat mengidentifikasikan fikiran yang baik dan yang buruk.
            Mudah saja, tanyakan dengan jujur kepada diri sendiri :
Benarkah yang akan saya lakukan itu benar ?
Benarkah  yang saya lakukan bermakna untuk hidup saya ?
Benarkah yang saya lakukan tidak akan merugikan orang lain ?
“Tidak” saatnya bagi kita untuk mengubah itu semua. Ingatlah, hilangkan ego terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Alangkah baiknya jika menutup diri dan selalu memelihara sifat yang baik, tentu hasilnya pun mencerminkan sebenarnya dan memberikan solusi yang terbaik.
            Yakinlah manusia adalah ciptaan yang luar biasa, dengan karunianya kita bisa memanfaatkannya untuk selalu berfikir positif, sayangnya tidak banyak orang menggunakan kekuatannya itu untuk sesuatu yang bermakna dan dalam hidup ini tidak di gunakan untuk selalu berfikir positif. Focus diri sendiri layaknya sebuah magnet yang bisa menarik besi, tetapi kita lebih dari itu. Kita bisa memilah fikiran positif atau fikiran negative .
            Selayaknya kita berfikiran positif dan tidak menghakimi seseorang, Karena hal itu kita tak akan pernah punya waktu untuk mencintainya *


*Mother Teresa
           

Thursday, October 9, 2014

REFLEKSI

Oleh: M. Nur Rizal Hakim

Selama ini indonesia, memiliki banyak organisasi islam yang masih tampak tertatih-tatih tentang menghadapi perkembangan pesat dikalangan masyarakat. Memang, sekarang ini banyak tidak puas dengan organisasi islam yang sudah mapan. Dikarenakan  organisasi semacam itu tidak mampu menampung gagasan-gagasan baru yang lebih relevan.
                Tetapi kalangan yang tidak teroganisir tampak lebih tanggap terhadap keadaan – keadaan baru. Muhammaddiyah misalnya, sangat tanggap terhadap keadaan & tangtangan – tantangan baru, namun organisasi tersebut mempunyai struktur – struktur yang sulit di ubah, tetapi masalahnya mereka memiliki struktur yang lebih luas.
          Jadi, sesungguhnya Muhammaddiyah cukup “cair” karena mereka memiliki struktur organisasi, tetapi kalau ada perombakan mereka sulit mengatur di tingkat intern. Katakanlah Muhammadiyah hendak melakukan pembaruan pendidikan, kesulitan pertama yang dihadapi adalah.,  Apakah dengan demikian sekolah Muhammadiyah harus meninggalkan ujian negara,  kurikulum nasional dan sebagainya  ?.
Lagi pula betapakah mungkin melakukan perombakan – perombakan setiap saat ?.
                Jadi susut pandang Muhammadiyah, adalah kurang adil jika menyebutnya sudah “beku”, karna latarnya sekarang sudah beda. Dahulu perkembangan dinamikanya adalah kualitatif sekarang adalah dinamika kuantitatif, dikarnanya organisasi tersebut sudah menambah sekolah, menambah rumah sakit, menggiatkan dakwah dan sebagainya. Dari sudut ini mungkin bisa dikatakan bahwa tugas sejarah Muhammadiyah dibidang pembaruan ( tajdid )  sudah selesai. Jadi tahap Muhammadiyah sekarang adalah tahap mewujudkan cita – cita awalnya.
                Diperlukan waktu yang panjang untuk lahirnya ide baru, dan tampaknya yang memulai harus orang lain dengan ide yang lebih segar untuk dilaksanakan dalan satu atau dua generasi secara konsisten.
                Dengan demkian organisasi itu perlu mendengar suara dari luar, dan itu bisa di lakukan dengan membuat suatu system yang terbuka. Kalau hanya sibuk di dalam saja akan timbul enthrophy, habis energy untuk mengurusi soal-soal intern saja.
                Dalam keadaan sekarang, tidak cukup hanya dengan menyatakan Islam sebagai ideology kita juga perlu ide Islam tentang etika, estetika, pemikiran filsafat, dll. Ini tidak bisa di cakup oleh Islam sebagai ideology, melainkan Islam sebagai ide.
                Lantas, apakah NU akan terus berada di balik bayang-bayang Muhammadiyah?

Melihat Dunia



Bersyukur
Oleh: M. Nur Rizal Hakim & Ishammuddiin Mahmudi

         Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka yang bahagia adalah orang yang kaya,  menduduki jabatan, yang berprestasi jadi tolak ukurnya adalah faktor keberhasilan yang menentukan kebahagiaan. Apakah selalu begitu ?
         Apakah yang nampak di luar itu nampak di dalam ?, belum tentu kan ?, kekayaan, jabatan, dan prestasi adalah bukan faktor mutlak untuk menentukan kebahagiaan seseorang.
         Ada hal yang begitu mendasar yang mampu membuat manusia bahagia dalam hidupnya, yaitu bersyukur atau rasa berterimakasih terhadap semua yang telah dimiliki saat ini, maka seharusnya yang di lakukan adalah memanfaatkannya secara optimal untuk kepentingan masa depan bagi individu dan sosial.
          Ada banyak hal yang bisa di syukuri, misalnya bernafas, memiliki keluarga, kebersamaan sahabat, dan mencintai seseorang. dari semua itu bisa di lakukan mulai saat ini. Harta duniawi, kesuksesan, jabatan tinggi tidak akan berarti apa-apa jika seorang tidak mensyukurinya, mereka tidak melihat sesuatu yang ada di sekeliling mereka, tetapi mereka mencari sesuatu di tempat lain. Hal yang negatif akan sangat mudah muncul ketika seseorang  tidak bisa melihat dan mensyukuri apa yang dialami saat ini, banyak berkat yang tersembunyi dalam kesulitan. Karena itu, kita sebenarnya bisa selalu bersyukur walaupun ketika mengalami kesulitan. Jika hal tersebut sukar di lakukan, maka hendaknya berfikir sebaliknya dengan menganggapnya menjadi suatu kemudahan.
          Ketika kita merasa susah dengan keadaan, syukurilah bahwa hal itu suatu hantaman yang siap untuk memperkokoh jiwa kita. Fokus untuk selalu berfikir positif, dengan berfikir positif kita akan dapat menyingkirkan hal-hal negative dalam fikir.
          Kedamaian pribadi dapat di ukur dengan sejauh mana kita mensyukuri hidup, sebuah kutipan dari pernyataan William Ward, ada tiga musuh bagi kedamaian pribadi
1.     Penyesalan akan hari kemarin
2.     Kecemasan akan hari esok
3.     Tidak adanya rasa syukur atas berkat hari ini.

Sebagai akhir, yakinlah karena keyakinan mengalahkan segalanya.


Tuesday, October 7, 2014

Kritik Diri.

Revolusi

Oleh : M. Nur Rizal Hakim


        Di masa sekarang, masalah yang paling sulit adalah bagaimana membicarakan persoalan pembebasan universal yaitu, pembebasan super-struktur dan struktur dalam konteks nasional.
oleh karena itu sebelumnya kita harus mengetahui apa yang sedang terjadi di negara kita, kita perlu mengidentifikasi masalah-masalah yang sedang muncul, menganalisanya, dan memberi alternatif-alternatif.
        Kita tidak perlu kecil hati jika kita mendengar bahwa cindekiawan muslim dianggap suka mengkritik, selalu memberi counter, suka berposisi dan sebagainya. Kita perlu ingat bahwa suatu sistem justru  sangat memerlukan kritik, setiap sistem dalam kurun waktu apapun justru memerlukankomponen yang memerlukan oposisi, sebab setiap sistem memerlukan kritik diri (self-critic). Suatu sistem akan berjalam baik jika ada self-critic. Oleh karena itu, kritik dari cendekiawan muslim harus dianggap sebagai self-critic bagi bangsa Indonesia.
         Konsekuensinya adalah bahwa cendekiawan muslim mungkin akan lebih berada di tempat yang terus bergolak, bergerak dan tidak pernah tentram. Generasi kakek atau ayah kita, barangkali tidak betah dalam suasan semacam itu, tetapi kita, tidak ada seorangpun yang akan merasa yang tidak betak dalam keadaan semacam itu. Dalam konteks semacam itu kita mengetahui bahwa cendekiawan muslim harus mampu dan berani melakukan kritik terhadap perjalanan sejarahnya sendiri , dan hanya kemampuan dan keberania semacam itulah mereka berhak di sebut sebagai cendekiawan muslim.

Tentu saja untuk itu kita harus melakukannya dengan cara sebaik-baiknya (bil-hikmah).  Maksud intinya bahwa kritik harus fungsional bagi sehat dan berjalannya suatu sistem. Kalau kita coba melihat dalam ilmu sosial, terdapat berbagai tipe masyarakat oriental,  masyarakat yang di dominasi oleh raja-raja, di lain pihak ada golongan bangsawan, petani, dsb. Dalam masyarakat hortikultural, ada sistem tersendiri, demikian pula dalam masyarakat agrikultural. Masyarakat industri memiliki sistemnya sendiri, masyarakat pasca industri memiliki sistem tersendiri. Di dalam setiap sistem sosial itu, selalu terdapat orang yang di untungkan dan mereka yang tidak beruntung.
         Kalau orang sekarang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri (dari masyarakat patrionial kemasyarakat kapitalis), maka dalam masyarakat industrial ada golonga-golongan yang di untungkan, dan ada pula golangan yang tertindas. Proses kapitalisasi di semua tindakan membuat mereka mempunyai kapital besar akan menjadi pemenang, dan yang kecil akan mereka yang di pecundangi.
         Umat Islam dalam konteks masyarakat Indonesia sekarang, harus mampu mengidentifikasikan siapa yang menindas dan siapa yang tertindas. Dengan cara itu, barulah umat Islam tahu kepada siap mereka harus memihak. Tentu saja kita mempertimbangkan lebih jauh bagaimana cara kita memihak, apa tujuan kita memihak dan akan di bawa kemana masyarakat kita.
         Yang jelas, umat Islam harus berjuang di dalam Allah untuk merubah sistem berfikir masyarakat. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah, dengan memakai analisa Marx, kita harus berhati-hati terhadap kemungkinan timbulnya konflik kelas.












Friday, October 3, 2014

idiot vs jenious

                       IDIOT Vs JENIOUS
                                                     Oleh : Farida Luthfiyatul Hidayah
       
salam sahabat pembaca yang budiman... saya ingin memperkenalkan diri saya. seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. maka di sini saya akan mencoba memberi sugesti dengan perumpamaan sesuatu yang real. bahkan, mungkin ada pada diri saya dan anda.
     pastinya anda tak asing dengan sebutan idiot bukan? tapi anda jangan salah sangka, idiot yang satu ini bukan sebuah kelainan psikis, melainkan si bodoh nan malas yang selalu di kecam juga sering jadi bulan-bulanan bahan olok. dan taukah anda saya adalah salah satu dari mereka. yah tepat sekali, saya ini orang bodoh yang sangat malas. itu alasan mengapa sekolah saya tak memberikan wewenang bertanggung jawab atas event tertentu. mereka bilang, "ah, bisa apa si idiot itu?" mungkin memang, mimik wajah saya saat menerima kecaman seperti itu terlihat murung dan dan mengumpat dendam. namun sejatinya, hati saya bungah (senang) lantaran jauh dari bebanyang umumnya orang idiot pikir, itu buang-buang waktu bersantai.berbeda dengan beberapa teman cerdas saya, mereka selalu andil bahakan berlomba menunjukkan ability masing-masing demi tempat jabatan yeng menurut pola pikir orang isiot itu tak ada guna.kasarannya seperti ceplos si idiot mengomentari hal ini, 'gawe opo?" ?!%$#*&?!#puff. 
     berbeda sangat... mereka yang cerdas selalu memperhitungkan keuntungan dan resiko. menimbang dan memperkirakannya apakah perbandingan antara modal dan hasil itu menguntungkan, setara, atau bahkan anjlok jatuh?. jika menguntungkan, mereka akan berlari kejar tayang siang malam demi laba yang mereka incar. jika setara mungkin mereka akan menunda ,mengerjakan proyek tersebut, hingga mereka temukan solusi yang terbaik.namun jika konsep itu menjerumuskan, mungkin mereka akan give up (berhenti/selesai) proyek dengan alasan tak ingin ambil resiko besar. sedang kami bangsa idiot, yang benci dengan keseriusan, lebih suka otodidak dan terkesan coba-coba pada konsep proyek. tak perlu pemikiran yang sedemikian rumit serta hanya bermodal keyakinan. soal kegagalan... itu hal yang wajar. kegagalan merupakan awal dari keberhasilan bukan? bahkan kami bangsa idiot dengan segala hormat meng-claim si cerdas adalah idiot itu sendiri. apa bedanya dengan banci? kalau resiko saja di takuti. karena menurut kami, nasib kita bisa berubah lantaran sebuah keberanian mengambil resiko.
     sekarang mari kita flash back. coba anda ingat berapa tokoh kaya raya dunia yang dulunya adalah bangsa idiot? bahkan lulusan droup out? itulah mereka, gambaran para idiot yang bertikai dengan resiko untuk mengubah nasib.yang mereka cari bukan rupiah ataupun dolar,tapi sebuah peluang. yah, peluang untuk menjadi bintang. peluang agar dunia mengenal dan mengenang rintisan peluh yang mereka bangun.
     kami para bangsa idiot tak gemar belajar sejarah.tapi, yang kami lakukan adalah bagaimana cara menjadi objek sejarah. bahkan tak jarang dari bangsa kami yang mempekerjakan para rakyat cerdas menjadi karyawan. seperti yang terjadi di sekolah saya. para rakyat cerdas selalu membuat resume book (ringkasan semua pelajaran) ketika menjelang ujian. andai saja kehidupan ini bisa sedikit di putar ke belakang, dan di rancang slow motion pasti anda akan menemukan kesibukan rakyat cerdas yang beradu dengan kertas dan bulpoin. sedang kami para bangsa idiot menunggu hasil proyek yang mereka kerjakan selesai. kemudian menikmati hasilnya dengan kemungkinan keuntungan yang sama. bahkan ada saja idiot yang scornya mengungguli rakyat cerdas.
     hmmm.... cerita ini nyata. kalau sudah seperti ini, siapa yang salah?. takdir? tidak!. mereka yang terlalu takut mengambil resiko. yang mereka takutkan hasil resume yang tidak standar mereka. dan bagi pegawai cerdas, mereka lebih memilih jalan aman. yakni, menjadi karyawan yang berpenghasilan tetap dari atasan yang tidak lain tidak bukan adalah bos idiot. terkadang di otak bangsa idiot seperti kami terdapat sebuiah kecerdasan yang tak mampu di terka para rakyat cerdas.
     sahabat pembaca yang budiman... yang pertama saya ucapkan permohonan maaf dengan sangat bagi sahabat pembaca yang termasuk dalam golongan rakyat cerdas. tak ada niat menjatuhkan reputasi anda. tapi yang saya harapkan adalah jagan bangga diri atas kecerdasan yang anda miliki. terlebih saat anda gemar menjatuh rekan idiot anda. anda takkan pernah tau apa yang mereka miliki adalah sebuah kelebihan.
     dan pesan semangat untuk sahabat pembaca yang bernasib sama seperti saya (bangsa idiot) jangan menghentikan langkah anda untuk mengubah nasib dan teruslah mencari peluang untuk menjadi legenda. WE ARE THE WORDL 
      tulisan ini terinspirasi dari seorang motivator nomor satu asia. BONG CANDRA

Thursday, October 2, 2014

Menjadi Jurnalis, My Top Job



Menjadi Jurnalis, My Top Job

Oleh : Jawaharo Nisa Salsabila

          Berbicara tentang pekerjaan impian, saya selalu optimis untuk merealisasikannya. Bagi saya mendambakan pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan bakat adalah bagian dari mimpi dan cita-cita. Pemuda akan bergairah memaksimalkan potensi dan konstribusinya jika apa yang dilakukan menghasilkan uang dan menjadi cermin dari kemandirian wirausaha. Hal ini akan menimbulkan kesan bahwa kita (pemuda) telah menjadi pribadi yang tuntas dengan dirinya sendiri. Setidaknya dimata orang tua.

          Saya sendiri punya pandangan job ingin menjadi seorang jurnalis. Bukan materi yang menjadikan saya ingin terjun ke dunia ini. Saya suka tantangan, meliput peristiwa dengan kamera dan alat perekam, diabatasi deadline, sarat akan lapor melapor dan kecakapan untuk berbicara dan menulis. Pekerjaan ini akan menuntut saya menjadi orang yang disiplin dan punya integritas pada waktu. Dunia jurnalistik akan menjadi sangat menarik dengan tantangan dari pihak berkuasa. Baik  berupa intervensi, gratifikasi, alat pencitraan dan propaganda. Seperti bermain game, yang menjadi pemenang adalah yang berkompeten dan bersih.


          Kelak saya akan mewarnai dunia pers yang baru baru ini senter dengan slogan “ A good news is a hot news “  dan meluruskannya. Dan itu bagi saya, harus menjadi kredibilitas dan tanggung jawab yang wajib dimiliki setiap pewarta.
          Saat ini saya masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Walaupun begitu, untuk mewujudkan pekerjaan yang saya cita-citakan, saya punya berbagai kegiatan pendukung, antara lain mengikuti Kursus karya tulis, aktif di dunia penerbitan berkala sekolah dan mengikuti berbagai event kompetisi tulis menulis. Lelah, tapi semoga ini dalah bagian yang dinamakan sebagai proses menuju kesuksesan. Amin (*)

Jawaharo Nisa Salsabila